hari ini :

Home » Uncategorized » Kaulinan Barudak Sarat Makna Dan Filosofi

Kaulinan Barudak Sarat Makna Dan Filosofi

photo credit: Ketua Formi Kab Bandung Hj. Kurnia Agustina Dadang M Naser saat Festival Kaulinan Barudak di SMA 1 Cikancung Desa Cihanyir Kec Cikancung, Rabu (22/11) / dok. Humas Pemkab Bdg

EDUPUBLIK, Kab Bandung – Ketua Federasi Olah Raga Rekreasi Masyarakat Indonesia (Formi) Kabupaten Bandung Hj. Kurnia Agustina Dadang M Naser mengajak seluruh lapisan masyarakat terutama para orang tua dan guru, untuk menghidupkan kembali “kaulinan barudak” sebagai permainan juga olah raga tradisional di Tanah Sunda, yang sarat makna dan filosofi terhadap pembentukan karakter.

“Saya mengajak semua pihak, terutama para orang tua dan guru untuk menghidupkan lagi budaya dan kearifan lokal melalui kaulinan barudak. Ayo kita berikan kasih sayang pada anak-anak kita, temani mereka bermain, jangan biarkan mereka dikuasai gadget yang hanya berdampak negatif,” seru Nia saat Festival Kaulinan Barudak di SMA 1 Cikancung Desa Cihanyir Kecamatan Cikancung, Rabu (22/11/17).

Pada kesempatan yang digagas Dinas Pariwisata dan Kebudayaan dengan Formi Kabupaten Bandung itu, Teh Nia sapaan akrabnya, memperkenalkan kaulinan urang lembur sebagai warisan budaya dengan berbagai makna. Menurutnya, filosofi kaulinan urang lembur sangat erat kaitannya dengan pembentukan karakter anak, seperti kejujuran, kekompakan dan kebersamaan.

“Permainan tradisional “kaulinan barudak” memiliki makna filosofi kehidupan. Selain melatih fisik dan kecerdasan, di dalamnya juga mengajarkan kita untuk saling tolong menolong, gotong royong, membangun kejujuran dan kepercayaan serta mempererat kebersamaan,” ungkap istri Bupati Bandung Dadang Naser tersebut.

Beberapa kaulinan urang lembur yang ditunjukan seperti engrang batok, momotoran dari bambu, babalonan sarung, paparahuan sarung, boyboy-an, momonyetan sarung dan jamparingan, yang sebagian alat kaulinan ada di rumah juga bisa dibuatkan sendiri. Dia berharap dengan dihidupkannya kembali permainan tradisional kaulinan urang lembur, selain mempertahankan budaya sunda, juga mampu menggeser permainan gadget.

“Semoga anak-anak terpacu untuk semakin mau bergerak. Jangan mager (malas gerak). Ditambah jika para orang tua terlibat, selain mempererat kedekatan emosional keluarga, mudah-mudahan anak-anak di Kabupaten Banduung semakin sehat, cerdas, ceria, dan berahlak mulia,” pungkasnya.

Asisten Pemerintahan Kabupaten Bandung Yudhi Haryanto,SH,SP1 menguraikan, permainan tradisonal ‘kaulinan urang lembur’ masih relevan dengan masa kini, berguna untuk memberikan pelajaran sosial, dan nilai-nilai kepada anak melalui sesuatu yang dapat diterima, yakni bermain.

“Budaya sunda dan kearifan lokal yang berkembang, merupakan khasanah nilai luhur yang mampu memperekat soliditas dan solidaritas sosial masyarakat, serta menjadi benteng pertahanan masyarakat terhadap dampak negatif yang ditimbulkan perkembangan teknologi informasi dan globalisasi selama ini,” terang Yudhi.

Dia meyakinkan, kaulinan urang lembur harus ditumbuhkembangkan dan dilestarikan, agar memberikan kontribusi positif terhadap upaya mempertahankan budaya. Salah satu cara melestariskan budaya sunda dan kearifan lokal yakni dilakukan festival kaulinan barudak.

“Dengan kaulinan barudak, anak bisa bebas bergerak, bebas radiasi, mengasah kreativitas, kompak, mempelajari kerjasama. Tak jarang dalam melakukan permainan “kaulinan barudak juga tak sedikit memerlukan teknik dan strategi,” terangnya di hadapan ratusan anak sekolah.[Iwa]

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

shares