hari ini :

Home » Entertainment » Joggie Natadisastra Angkat Bicara Terkait Pengekor Queen Percussion: Boleh saja, Asal …  

Joggie Natadisastra Angkat Bicara Terkait Pengekor Queen Percussion: Boleh saja, Asal …  

photo credit: Queen Percussion (foto 1) / dok. Istimewa

EDUPUBLIK, Bandung  –  Galibnya, Queen Percussion adalah grup musik perempuan pertama di indonesia sejak 2012. Kelompok ini berasal dari kota kembang Bandung. Kiprahnya, dalam beberapa tahun terakhir ini kerap meramaikan blantika musik perkusi di Tanah Air.

Menilik muasalnya, ini terbentuk berkat pengembangan hobi dari musisi jebolan Ozenk Percussion. Jebolan Ozenk Percussion itu, tak lain Joggie Natadisastra yang kerap disapa  Oggie. Oggie dikenal luas kerap punya ide dan konsep terbilang unik. Kata banyak orang, Oggie senantiasa punya talenta khas dalam karyanya.

Ihwal Queen Percussion menurut Oggie terbentuk tatkala ada permintaan khusus produser program musik dari SCTV. Tepatnya, melalui Kang Ozenk yang kerap tampil di SCTV dengan grupnya  Ozenk Percussion, Oggie diminta mengisi mata acara  INBOX (SCTV). “Saat itulah group ini terbentuk.”

photo credit: Queen Percussion (foto 2) / dok. Istimewa

Masih menurut Oggie, sejak 2012 ia mengisi opening music performance pada mata acara INBOX. Pengembangan Oggie, berlanjut , melahirkan konsep grup musik perkusi yang semua personalnya, perempuan. Group ini terdiri atas Septy Lucciani Lubis (Iank), Alya Puspasari (Alya), Tiwi Usiana (Tiwie), Irma Damayanti (Irma), dan Windy Rolesya (Windy). Windy adalah drummer dari Grup Band SAMANTHA. “Inilah cikal bakal group Queen Percussion,” tutur Oggie.

Pukulan & Koregrafi Tubuh

Konsep utama Queen Percussion memadukan gaya pukulan perkusi dengan koreografi tubuh yang indah, Oggie pun semakin bersemangat, ia munculkan aksen-aksen pukulan perkusi energik dan stylish. Makin kukuhlah, Oggie menamakan grup music ini Queen Percussion yang tak lain berarti ratu perkusi! Harapan Oggie kala itu – karyanya diterima masyarakat  luas.  .

Selaku pendiri tunggal serta pemilik grup musik perkusi ini, Oggie kerap menegaskan :”Queen Percussion hanya satu brand, tidak ada lagi nama Queen Percussion lainnya, selain yang saya rintis. Soal ini pernah saya paparkan saat press conference yang ditayangankan pada program musik INBOX SCTV bulan Mei 2012.”

Pendiri Tunggal

Terkait bila dewasa ini ada pihak selain Oggie yang mengikuti konsep group musik  Queen Percussion:”Silahkan saja, itu sah-sah saja tidak ada yang melarang. Namun kalau ada yang mengatasnamakan Queen Percussion, itu sudah menyalahi aturan perundang-undangan hak cipta. Ini bisa dituntut, bukan lagi sebagai plagiat tetapi sudah mengambil alih sebuah brand tanpa sepengetahuan sang pemilik. Kondisi ini bisa saja saya tuntut secara hukum . Memperkuat ini, saya punya bukti profile akurat, Queen Percussion itu sayalah pendiri tunggalnya. Ini meliputi nama brand, ide, konsep dan semua pertunjukannya,” tutur Oggie selaku Manager Queen Percussion di hadapan awak mass media pada Selasa 28 November 2017.

photo credit: Queen Percussion (foto 3) / dok. Istimewa

Diketahui, masih menurut Oggi yang kerap tampil di program musik INBOX, sang produser pun sangat puas dengan penampilan Queen Percussion. Selanjutnya, group musik ini makin kerap diundang tampil pada banyak event musik festival, sekaligus mengadakan tour musik di 12 Kota besar di Indonesia dengan sebuah perusahaan rokok ternama (GG). Tour musik ini dikelola oleh D-plus (Event Organizer).

Dalam beberapa kesempatan tour musiknya Queen Percussion sempat berkolaborasi dengan beberapa grup band ternama di Indonesia seperti, SLANK, GIGI, UNGU, NOAH, WALI dll. Lainnya, pernah berkolaborasi dengan beberapa Disc Jockey (DJ) ternama seperti DJ Jasmine, DJ TABLAA, DJ Renza Moors, dll.

“Hingga saat ini Queen Percussion pun kerap tampil di beberapa stasiun TV swasta, event gathering, pensi, club dan acara lainnya,” pungkas  Oggie yang merasa perlu menjelaskan ihwal group musik binaannya. [HS]

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

shares