hari ini :

Home » Politics » Panca Pratama, CEO CiGMark & Consultan – Oded Paling Kuat, Namun Belum Aman

Panca Pratama, CEO CiGMark & Consultan – Oded Paling Kuat, Namun Belum Aman

photo credit: CiGMark & Consultan / dok. Akbar

EDUPUBLIK, Bandung – Pesta Demokrasi dan dinamika politik jelang pilkada Kota Bandung kian marak. Bakal calon (balon) walikota dan wakil walikota bermunculan. Pertarungan di babak awal, memperebutkan tiket dari partai politik.

“Posisi awal ini memperebutkan dukungan partai politik. Mereka berebut rekomendasi, padahal masih tak menentu. Di satu pihak, partai politik tengah menakar kandidat yang layak usung. Tentu, sambil mengatur strategi membangun koalisi,” kata Panca Pratama, CEO CiGMark  & Consultan di Grand Serela Hotel. Jl. LLRE. Martadinata ( Riau) No 56. Bandung (20/12/2017).

Nah, di tengah ketidakpastian rekomendasi, para kandidat dan parpol, ternyata masih berjuang demi memperoleh dukungan 20 persen dari jumlah kursi di DPRD. Di lain pihak, para kandidat masih harus menggalang dukungan pemilih. Ini sebagai modal demi memenangi pilkada. Andai kelak mereka beruntung. Mereka akan beroleh dukungan partai, lalu ditetapkan menjadi pasangan calon oleh Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD).

Soal ketidakpastian rekomendasi ini, pastilah menimbulkan rasa was was, bagi para balon. Tantangan lain, mereka harus berjibaku demi menggapai elektabikitas tinggi. Katanya, ini sebagai salah satu syarat – mendapatkan rekomendasi partai.

Tantangan lain, demi meraih elektabilitas tinggi haruslah punya modal sosial yang tinggi. Meraih posisi itu, perlu sosialisasi ala ‘jungkir balik’. Ini di antaranya melalui tatap muka langsung dengan masyarakat. Lainnya, perlu perkuatan publikasi melalui ragam alat peraga, menembus jaringan dan jenis media. Semua itu butuh biaya tinggi. Belum lagi biaya tak terduga, mengurus rekomendasi. Taruhannya, ongkos politik membengkak.Inilah faktor paling signifikan,  penyebab banyak kepala daerah terjerembab dalam jeratan kasus korupsi. Hipotesanya, andai ongkos politik dapat ditekan, harapannya akan berbading lurus dengan menurunnya kasus korupsi kepala daerah. Minimal, kasus korupsi kepala daerah dapat ditekan.

Kekuatan Kandidat?

Masih di tengah serunya perebutan tiket pencalonan, bagaimana peta kekuatan dukungan para kandidat di kalangan pemilih? Demi memetakan tingkat dukungan kandidat, CiGMark Research & Consulting telah melakukan survei opini publik yang dilakukan pada 1 – 12 Desember 2017. Ini untuk mengukur preferensi pemilih terhadap suksesi kepemimpinan di Kota Bandung 2018 dan selanjutnya.

photo credit: Panca Pratama, CEO CiGMark & Consultan / dok. Akbar

Deretan nama kandidat yang diuji dalam survei CIGMark Research & Consulting, nama wakil walikota Bandung Oded M Danial memiliki dukungan paling kuat. Dari simulasi 12 nama yang diuji tingkat elektabilitas Oded paling tinggi. Ia berada di urutan 1 dengan elektabilitas 27,3 persen. Disusul mantan wakil walikota Bandung Ayi Vivananda 8, 1 persen, M Farhan 8,0, Nurul Arifin 5,5, Yossi Irianto, 5, 1, Gatot Tjahyono 4,9, Fiki Satari 2,3, Dandan Riza Wardana 2,2, Iwa Gartiwa 2,1, Arfiana 1,3, Aries Supriatna 1,3, Yana Mulyana 0,9 dan pemilih yang merahasiakan, seta yang belum memutuskan sebesar 31 persen.

Jika di uji dalam simulasi 6 nama,  berikut posisi elektabilitas Oded M Danial 29.1%, M Farhan 13.2 %, Nurul Arifin 9.2%, Dandan Riza Wardana 4.2%, Aries Supriatna 3.1%, Yana Mulyana 1.6%, rahasia/tidak tahu/tidak jawab masih tinggi yaitu 39.60%.

Selain itu, dalam simulasi 6 nama dengan memasukkan formasi yang berbeda, posisi Oded tetap masih di atas, meskipun ada kecenderungan menurun dengan elektabilitas 28.2%, disusul Ayi Vivananda 11.4, Nurul Arifin 8.2, Gatot Tjahyono 6.9, Yossi Irianto 6.5. Sisanya, pemilih yang menjawab rahasia/tidak tahu/tidak jawab, masih cukup besar yakni 35.4%.

Kesimpulan yang dapat ditarik dari peta kekuatan dukungan balon walikota Bandung sementara ini Oded paling kuat. sementara di bawahnya terjadi persaingan ketat antara Ayi, Farhan, Nurul Arifin dan Gatot. Menyusul persaingan berikutnya, yakni Dandan Riza Wardana, Fiki Satari, dan Iwa Gartiwa.

Sementara itu elektabilitas untuk calon wakil walikota juga mengalami persaingan ketat jika dilihat dari posisii elektabilitas calon wakil walikota berikut ini; M Farhan 10.2, Yossi 9.2, Gatot 7.3, Viki Satari 4.6, Dandan Riza Wardana 3.2, Yana Mulyana 2.7, Arfiana Rafnialdi 2.1, Chaerul Yakin (Ruly) 2.0, Iwa Gartiwa 1.4, Aries Supriatna 1.3, Deny Zaelani 0.9, Haru Suhandaru 0.2 dan tidak Tahu/tidak jawab 54.9 persen.

Nah lagi, dari posisi elektabilitas calon walikota ini, disimpulkan bahwa pertarungan posisi wakil masih dalam kondisi “pasar bebas”. Maknanya, semua kandidat masih punya peluang yang sama. Penyebabnya,  selisih angka elektabilitas mereka tidak terpaut jauh.  Pun, jumlah swing votersnya masih sangat besar.

Terkuat Oded, namun Belum Aman

Meski elektabilitas Oded berada di paling puncak, maknanya masih belum aman. Tiga faktor yang membuat posisi kader PKS yang menjabat sebagai wakil walikota Bandung saat ini belum aman;Pertama, jumlah swing voters masih cukup tinggi yaitu 77.3 persen. Sementara pemilih loyal (strong supporter) Oded baru 10.4 persen; Kedua, pertarungan politik masih sangat dinamis, ini memungkinkan potensi perpindahan pemilih masih cukup besar; Ketiga, masih ada kemungkinan Oded gagal maju jika tidak mendapat dukungan dari partai lain. Dalam pertarungan politik terkadang bisa terjadi perubahan yang sangat cepat dan terjadi di luar prediksi. Selain itu dengan munculnya figur-figur seperti M Farhan dan Nurul Arifin yang memiliki latar belakang keartisan,berpotensi jadi ancaman bagi Oded. Begitu pun, dengan adanya figur Dandan Riza Wardana  yang merupakan putra Ateng Wahyudi mantan walikota Bandung, ini pun cukup punya magnet politik Pasalnya political endorsement cukup memiliki peluang, mempengaruhi pemilih – ingat,  kultur di negeri sejuta pulau ini, kultur paternalistic bisa menjadi faktor penentu. [SA]

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*