hari ini :

Home » Edukasi » Komitmen CV Perajutan Sahabat Untuk Dukung Program Citarum Harum

Komitmen CV Perajutan Sahabat Untuk Dukung Program Citarum Harum


EDUPUBPLIK, Kab. Bandung -Beberapa waktu lalu lubang pembuangan limbah beracun Perusahaan tekstil CV Perajutan Sahabat yang berlokasi di Jalan Mengger No. 8, Mohamad Toha KM. 5.6 Bandung ditutup dengan cara dicor oleh jajaran Satgas Citarum Sektor 21 karena mengalir ke anak sungai Citarum, kini berkomitmen untuk senantiasa menjadi perusahaan yang bersahabat dengan lingkungan.

Perusahaan yang yang mempekerjakan sekitar 150 sampa 200 orang tersebut sebelumnya telah ditutup saluran pembuangan limbah industrinya, pada tanggal 10 Juli 2018 lalu, karena kedapatan membuang limbah kotor ke aliran sungai yang menuju sungai Citarum

Pada kesempatan ini Dansektor 21 menjelaskan,” untuk membuka penutupan saluran pembuangan limbah, yang sudah kami tutup pada tanggal 10 Juli lalu, hari ini kita bersama-sama melihat IPAL-nya, hasilnya sudah luar biasa, sudah hampir sama dengan air mineral, dan kini outletnya sudah ditanami ikan, serta zatnya sudah tidak berbahaya, yang saya khawatirkan hasil limbah bening tapi berbahaya, namun ini tidak.

Begitupun disampaikan oleh pemilik perusahaan, Johan Halim, diruangan kantornya dihadapan Dansektor 21 Kolonel Inf Yusep Sudrajat beserta jajaran dan elemen masyarakat juga awak media, Rabu (18/7/2018), setelah pengecekan oleh Dansektor ke outlet IPAL (Instalasi Pengolahan Air Limbah) CV Perajutan Sahabat, diperkuat dengan komitmen tertulis yang ditandatangani sendiri oleh Johan Halim.

“Kami akan membuang hasil pengolahan IPAL seperti ini,” kata Johan Halim sambil menunjuk ke sampel limbah yang sudah bersih yang diambil dari outlet IPAL perusahaannya.

Ditambahkan oleh Johan, setelah lubang pembuangan limbahnya ditutup oleh jajaran Satgas Citarum pada tanggal 10 Juli 2018 lalu, pihaknya segera melakukan evaluasi dan pembenahan di sumber daya IPAL. “Saat ditemukan hasil pengolahan limbah kami bermasalah oleh Satgas, kami langsung mengganti sumber daya yang ada. Jadi, bukan pihak perusahaan tidak ingin mengolah limbah dengan benar. Karena dalam 2 tahun terakhir ini kami sudah punya komitmen dengan membangun dan membenahi IPAL sesuai keinginan pemerintah agar Citarum bersih,” terangnya.

Dijelaskan lagi oleh Johan, selain membenahi sumber daya, perusahaannya juga membenahi tanki obat serta layout. Termasuk menambah cost, “Dari sebelumnya kami mengeluarkan budget sebesar 1.500 rupiah, kini anggarannya kami naikkan ke angka Rp 4.500 per satu kilo KS untuk proses kimianya untuk optimalisasi hasil,” ungkapnya.

“Saat ini kami sudah bicara dengan satu konsultan untuk bisa membuat proses recycle hasil pengolahan limbah kami,” kata Johan untuk langkah perusahaannya kedepan.

Dikesempatan yang sama, Dansektor 21 Satgas Citarum Kolonel Inf Yusep Sudrajat menjelaskan bahwa pihaknya saat ini tidak akan banyak berdiskusi dengan pihak pabrik yang membuang limbah kotornya ke aliran sungai. “Tidak ada diskusi-diskusi atau kompromi, kita temukan, kita akan langsung lokalisir dengan menutup lubang pembuangan limbahnya agar tidak mencemari lingkungan. Habis itu, ayo kita diskusi. Tapi diskusi untuk tidak membuang limbah kotor lagi,” tegas Yusep.

“Hari ini lubang saluran pembuangan limbah CV Perajutan Sahabat kita akan buka. Selama penutupan, perusahaan ini tidak berproduksi. Sekarang hasil pembenahan olahan limbahnya kita bisa lihat, sudah bersih, dan outlet pembuangan limbahnya sudah ditanami ikan mas dan ikan koi. Membuktikan selain jernih juga tidak berbahaya. Karena kalau jernih saja bukan berarti tidak berbahaya,” terang Yusep.

“Untuk itu kami ucapkan terima kasih atas kerja keras pihak perusahaan yang telah bekerjasama dengan Satgas Citarum, itu yang kami harapkan dari semua pemilik pabrik. Malah kita berharap, sebelum kita temukan limbah kotor yang keluar dari pabrik, baiknya mereka sudah berbenah. Sehingga tidak membuat kita yang dilapangan  capek dan perusahaan juga tidak excuse. Tapi apapun ceritanya, kami akan terus melaksanakan patroli dan pengecekan. Karena kita paham, yang telah bekerjasama dengan Satgas Citarum tentunya sudah mengeluarkan cost yang lebih agar kualitas hasil olahan limbahnya menjadi baik. Jika semua pabrik hasil olahan limbahnya sudah baik, harga produk pasti tetap kompetitif,” kata Yusep lagi.

Diterangkan lebih lanjut oleh Yusep, “Kenaikan cost pengolahan limbah yang dilakukan oleh pihak pabrik, jika dibandingkan kerugian yang dialami oleh masyarakat selama ini, tentu sangat kecil. Puluhan tahun pabrik membuang limbahnya yang kotor, ekosistem kini sudah rusak, warga masyarakat di bantaran sungai juga rentan terhadap penyakit. Nah, disini tugas dari Satgas Citarum untuk mengembalikan ekosistem di DAS Citarum,” ujar Yusep.

Dalam kesempatan ini pula Satgas Citarum Harum Sektor 21, bersama LSM PMPR Indonesia dan Relawan Bela Alam, juga didampingi para Jurnalis Citarum Harum, melakukan sidak di Jalan Mohamad Toha dan mendapatkan limbah yang mengalir diselokan masih berwarna hitam, serta melakukan kunjungan ke IPAL PT. Hakatex Sejahtera Jalan Mohamad Toha, KM 5,6 Bandung [red]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

shares