hari ini :

Home » Lingkungan » Satgas Citarum Sektor 21 Sidak PT. Novatex dan PT Kiatex di Majalaya

Satgas Citarum Sektor 21 Sidak PT. Novatex dan PT Kiatex di Majalaya

EDUPUBLIK, Kab Bandung – Agenda sidak Satgas Citarum Sektor 21 terhadap dua pabrik WJL yang terletak di kawasan industri Kaha group di wilayah Majalaya Kabupaten Bandung dilakukan pada hari Senin (26/11/2018) yang dihadiri Kolonel Inf. Yusep Sudrajat selaku Dansektor 21, satgas citarum sektor 21-15, dan beberapa awak media. Kedatangan Dansektor 21 diterima oleh Henry selaku salah satu  staff pimpinan manajemen kawasan industri Kaha yang juga ikut mendampingi giat sidak tersebut.

Kolonel Inf. Yusep Sudrajat saat melakukan sidak di PT. Novatex yang berada di kawasan industri Kaha Majalaya Kabupaten Bandung mengatakan, “Pabrik ini pernah kita tutup saluran limbahnya. Dan sekarang ada keseriusan dari PT. Novatex dengan membangun pengolahan limbahnya. Jadi saya kasih waktu 15 hari untuk menyelesaikan IPAL dan hasil buangan yang bening pada limbahnya, ” ujarnya.

Saat mendatangi PT. Novatex, Dansektor 21 dan rombongan langsung dipertemukan dengan Presiden Direkturnya yaitu Choi Dong Ok yang didampingi manajer dan konsultan IPAL nya.

Sri selaku Manajer HRD nya mengakui bahwa bak penampungan yang ada saat hujan hujan kemarin mengalami overload hingga meluap ke pembuangan limbah. “Dan sekarang kami tengah menambah fasilitas penampungan serta menambah sarana recycle air limbahnya hingga IPAL yang tengah kami bangun selesai,” papar Sri.

Sementara konsultan IPAL nya menjelaskan bahwa butuh 2 hingga 3 bulan untuk menyelesaikan bangunan IPAL PT. Novatex hingga solusinya adalah melakukan recycle air limbah selama waktu tersebut meski bisa beresiko terhadap kinerja mesin.

Sementara di pabrik kedua yaitu PT. Kiatex, Dansektor juga langsung dipertemukan dengan Presiden Direkturnya yaitu Choe Sang Rok yang telah menetap di Indonesia selama 32 tahun. Setelah diterangkan mengenai program Citarum Harum oleh Dansektor 21, Choe mengungkapkan bahwa di Korea sejak dulu IPAL kawasan industri disana dibuat secara komunal.”Di Indonesia ini telat,” ujar Choe.

Cjoe juga menjelaskan bahwa pabriknya telah mengolah IPAL menjadi bersih bahkan sebelum adanya satgas Citarum Harum. “Saya sangat mendukung program Citarum Harum,” ujar Choe.

Kolonel Inf. Yusep sudrajat menjelaskan bahwa IPAL untuk jenis pabrik WJL ini cukup sederhana. “Tidak seperti pabrik pencelupan, pabrik WJL atau tenun ini tidak menggunakan zat pewarna atau bahan kimia yang banyak. Namun tetap harus memiliki IPAL yang baik seperti yang dimiliki PT. Kiatex ini,” ujar Kolonel Inf. Yusep Sudrajat. [sa]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

shares