hari ini :

Home » Lingkungan » Gerakan Hejo Mendorong Penggunaan Alat Pemusnah Sampah, Tinggal Tunggu Kebijakan Pemerintah

Gerakan Hejo Mendorong Penggunaan Alat Pemusnah Sampah, Tinggal Tunggu Kebijakan Pemerintah

EDUPUBLIK, Bandung – Gerakan Hejo dengan salah satu unit divisi kerjanya yaitu Hejo Tekno terus melakukan inovasi dalam pelestarian lingkungan yaitu dengan merealisasi penggunaan alat pemusnah sampah kawasan dengan menggunakan teknologi thermal, STungTA (Sistem Tungku dan Treatment Air) dan konsep KAMISAMA (Kawasan Minimasi Sampah Mandiri), saat ini hanya menunggu keputusan Pemerintah dengan kebijakan memilih teknologi yang diciptakan oleh karya anak bangsa.

“Bicara soal penggunaan, sudah tinggal digunakan oleh masyarakat, pembelian pun bisa secara langsung. Tapi kalo pemerintah saat ini yang saya dengar mewajibkan pembelanjaan lewat e-catalog,” ujar Betha Kurniawan, CEO Hejo Tekno seusai mempresentasikan sistem kerja Stungta dan Kamisama kepada Stakeholder tingkat Kementerian, di Gedung BPKAD Jabar, Kamis (5/12/2019).

Syarat untuk E-Catalog, “semua stakeholder dan semua ijin sudah harus beres, bahkan proses lkpp pun sebagai pengelola e-catalog membicarakan banyak hal, kami tidak bisa mendaftarkan diri sebagai produk yang langsung, karena akan menjadi tanda tanya besar, baru didaftarkan sudah ada kebutuhan, beda hal nya kalo pemerintah yang mendaftarkan kami karena pemerintah yang membutuhkan,” jelasnya.

Jadi, kata Betha, sampai hari ini kami masih menunggu dari pihak pemerintah yang akan menggunakan produk ini.

“Dalam hal ini yang memiliki peran banyak adalah pak gubernur (Jabar) ya, kami sedang menunggu pertemuan berikutnya dengan pak gubernur, arahan untuk e-catalog,” harapnya.

Selain menawarkan teknologi ramah lingkungan dan tepat guna, Hejo Tekno sebagai salahsatu Divisi Gerakan Hejo dibawah ketua Eka Santosa, dengan Stungta-nya sudah melalui rangkaian uji produk dan mendapatkan apresiasi dari berbagai pihak, seperti uji standarisasi oleh BSNI (Badan Standarisasi Nasional Indonesia), uji Sucofindo, HAKI, serta mendapatkan apresiasi dari Menristekdikti, Kemen LHK, Kemenko Kemaritiman dan Investasi, dan telah di uji coba penggunaannya di beberapa wilayah kawasan.

Terkait pertemuan hari ini, lanjut Betha, merupakan sebuah lompatan yang diberikan pihak Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Jabar dan Dinas Perumahan dan Pemukiman (Disperkim) Jabar telah mempertemukan kembali Hejo Tekno dengan beberapa stakeholder tingkat Kementerian yang memiliki peran dalam kebijakan dan strategis.

“Harapannya sih, stungta yang muncul dari jawa barat ini bisa menjadi solusi buat nasional, tapi kami tidak muluk muluk dulu lah, minimal (permasalahan) citarum heula beres,” ungkapnya.

“Kami ingin membereskan permasalahan lingkungan tanpa harus menambahkan masalah baru, sehingga kenapa kita harus mengikuti track record nya yang benar,” imbuhnya.

Dan alhamdulillah, lanjut Betha, tadi penghargaan dan apresiasi dari semua pihak yang hadir mengatakan bahwa Stungta sudah on the track (menempuh sesuai jalur). “Dan kita tinggal wait and see berproses terus,” ujarnya.

Sementara, Lucky Ruswandi Sumanang selaku Kabid Infrastruktur Pemukiman Dinas Perumahan dan Permukiman Jawa Barat mengapresiasi inovasi yang dilakukan oleh Gerakan Hejo melalui Hejo Tekno terkait penanganan permasalahan sampah.

Ada tiga hal yang menjadi penilaiannya atas inisiatif yang ditawarkan Hejo Tekno, pertama membawa kesadaran bahwa permasalahan sampah menjadi kewajiban kita bersama. Yang kedua, “kami khususnya pemerintah jawa barat mendorong agar produk dan sistem ini menjadi salahsatu contoh atau solusi terhadap permasalahan sampah yang sampai saat ini bisa dikatakan belum berhasil,” tuturnya.

Kemudian yang ketiga, lanjut Lucky, kita juga mendorong bukan hanya teknologi pemusnahan sampah, “yang kita bangun bukan hanya pengolahan sampah, tapi pengelolaan sampah, mulai dari hulu sampai ke hilir nya,” ungkapnya.

Untuk merealisasikan penggunaan alat dan sistem ini di masyarakat, “sebenarnya ini belum menjadi program yang ada anggarannya secara khusus, tapi paling tidak kita tempatkan disini sebagai uji coba. Kemudian, kita ingin ada pilot project. Kita juga lagi mengusulkan karena kebetulan ada program citarum harum, saya akan mengusulkan bahwa ini ada teknologi yang akan dipakai di program citarum harum,” pungkasnya. [cy/sa]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

shares