hari ini :

Home » Edukasi » Paparan Dansektor 21 Pada Seminar System Pemantauan Kualitas Air Limbah di ITB

Paparan Dansektor 21 Pada Seminar System Pemantauan Kualitas Air Limbah di ITB


EDUPUBLIK, Bandung – Sehubungan dengan diundangkannya Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) no. 80 tahun 2019 tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan nomor 93 tahun 2018 Tentang Pemantauan Kualitas Air Secara Terus Menerus Dan Dalam Jaringan Bagi Usaha Dan; Atau Kegiatan, Lembaga Pengembangan Inovasi dan Kewirausahaan (LPiK) ITB menyelenggarakan Seminar System Pemantauan Kualitas Air Limbah bertempat di Multiple Hall CRCS lantai 3 Kampus Ganesha ITB pada hari Rabu (12/02/2020)

“Pencemaran yang ada di sungai Citarum tidak secara tiba-tiba berubah dari kondisi berat  menjadi ringan dengan hanya curah hujan. Perlu proses yang panjang dan kita harus menyadari betul permasalahan Citarum,” kata Dansektor 21 Kolonel  Inf. Yusep Sudrajat saat memberikan paparan di Seminar System Pemantauan Kualitas Air Limbah di Institut Teknologi Bandung (ITB) .

Dalam kegiatan tersebut, hadir Rofiq Iqbal selaku Sekretaris Bidang Inovasi LPiK ITB,  Kolonel Inf. Yusep Sudrajat selaku perwakilan dari Pangdam II Siliwangi (Dansektor 21) menjadi narasumber terkait penanganan limbah di sungai Citarum, lalu Ahdes Fuadi  dari KLHK, serta Dr. Qomarudin Helmy S,Si., MT. dan juga Dansektor 9 kolonel Inf Amir Mahmud.

Dalam seminar tersebut Ahdes Fuadi menjelaskan tentang perubahan yang terjadi  dalam pasal-pasal baru perundang-undangan Peraturan KLHK no.80 tahun 2019 tentang pemantauan kualitas air secara terus menerus. “Dalam Permen no. 80 tahun 2019 ini terdapat perubahan beberapa istilah dan standar dalam hal pemantauan kualitas air termasuk hasil limbah yang dikeluarkan oleh industry,” kata Ahdes. “Nantinya aka nada suatu system pengontrolan real time yang langsung bisa dilihat di KLHK dengan laporan perjam nya selama 24 jam sehari dengan menggunakan teknologi terbaru yang kita sebut Sparing,” lanjutnya lagi.

Ahdes mengungkapkan bahwa pada bulan Agustus 2020 ini, Permen tersebut harus sudah diikuti oleh para pelaku industri dan akan ada tindakan hokum bagi pelaku industri yang masih bandel dengan mencabut izin usahanya.  “Setelah Permen ini berlaku maka semua pelaku industri harus menerapkannya sebelum bulan Agustus tahun ini dengan menambah fasilitas pengontrolan kualitas air buangan limbahnya dengan mesin yang sudah direkomendasikan oleh KLHK,” tuturnya.

Sementara itu Kolonel Inf. Yusep Sudrajat memaparkan kondisi sebelum dan sesudah TNI masuk dalam penanganan pencemaran di sungai Citarum dalam program Citarum Harum yang sudah berjalan selama hampir tiga tahun terakhir. “Berpuluh tahun masyarakat dan para pemangku kebijakan membiarkan kondisi sungai Citarum ini tercemar berat oleh kebiasaan buruk pengusaha dan masyarakat hingga akhirnya TNI ditugaskan untuk menangani permasalahan tersebut,” papar Kolonel Inf. Yusep. “Dan saat ini sudah banyak perubahan yang terjadi dan kami berharap perubahan ini juga didukung oleh stake holder terkait seperti pelaku industri agar bisa melaksanakan komitmennya untuk menjaga lingkungan,” pungkasnya lagi. [bn/red]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

shares