hari ini :

Home » Edukasi » Serangga Hama Ulat Api Penyebab Merosotnya Produk Sawit

Serangga Hama Ulat Api Penyebab Merosotnya Produk Sawit

Oleh: Martua Suhunan Sianipar
Dosen Ilmu Hama dan Penyakit Tumbuhan Fakultas Pertanian
UNIVERSITAS PADJADJARAN

EDUPUBLIK – Kelapa Sawit pertama kali di perkenalkan di Indonesia oleh Pemerintah Belanda pada 1848. Pada 1911 Sawit mulai dibudidayakan di Indonesia secara komersil oleh Adrien Hallet orang Belgia sebagai perintis di Pantai Timur Sumatera (Deli) dan Aceh dengan luas areal perkebunan mencapai 5.123 Hektar dan mulai eksport sawit keluar negeri pada 1919 sebanyak 576 ton. Pada 1957 Pemerintah mengambil alih usaha sawit diperkebunan. Hingga pada 1980 luas lahan sawit kita mencapai 294.560 hektar. Sawit Elaeis guineensis sangat cocok tumbuh di dataran rendah. Sawit dapat tumbuh diberbagai macam tanah seperti latosol, tanah volkanik muda, alluvial dan tanah gambut. Tanah yang mempunyai drainase baik dan tidak ada genangan air yang permanen merupakan persyaratan tempat tumbuh sawit walaupun sawit toleran tumbuh pada daerah yang mempunyai genangan air pada periode pendek.

Kelapa sawit merupakan tanaman yang paling produktif dibandingkan dengan kelapa penghasil minyak nabati lainnya. Indonesia merupakan produsen kelapa sawit terbesar kedua setelah Malaysia. Sebanyak 85 % lebih pasar dunia sawit dikuasai Malaysia dan Indonesia.

Salah satu faktor penyebab terjadinya penurunan produk sawit disebabkan berbagai faktor pengganggu seperti Organisme Pengganggu Tanaman (OPT). OPT terdiri dari Hama, Penyakit dan Nematoda termasuk gulma. Berbagai serangga hama yang sering ditemukan menyerang sawit adalah Ulat api ( Setothosena asigna Eecke). S. asigna/ulat api ini dikenal sebagai ulat yang paling rakus dan paling sering menimbulkan kerugian dipertanaman sawit . Serangga hama Ulat api ini sering menyerang sawit yang belum menghasilkan (TBM) dan tanaman yang menghasilkan (TM). Ulat api mengalami berbagai fase/stadia hidupnya seperti stadia telur, stadia ulat/ larva, pupa dan imago/ dewasa. Stadia larva merupakan stadia yang menyerang sawit. Ulat api ini memulai mendegrasi bagian bawah permukaan daun secara perlahan hingga nantinya akan disisakan bagian atas daun. Gigitan ulat ini akan terlihat jelas memanjang sehingga daun akan mengering. Pengendalian ulat api dapat dilakukan secara fisik/mekanis, kimia dan biologi. Secara fisik/mekanis dilakukan dengan cara pengutipan dan pemusnahan ulat pada daun sawit, dan secara sanitasi mnjaga kebersihan lingkungan dari gulma serta air tergenang. Secara kimia sintetis dengan menggunakan insektisida dengan penyemprotan (spraying) dengan penyemprot tangan pada sawit berusia 2.5 tahun atau dengan mesin penyemprot pada sawit berumur 5 tahun lebih. Penyemprotan kimia sisntetis melalui udara bisa dilakukan dalam suatu keadaan tertentu pada areal sawit yang luas dengan berbagai kondisi topografi. Pengendalian secara biologi dapat dilakukan dengan cara pemanfaatan parasitoid larva seperti jamur Trichogramma sp dan predator Eochanthecona sp serta virus Bacillus thuringensis dan jamur Beuveria bassiana.

Tungau merah (Oligonychus sp ), berukuran kecil sekitar 0.5 mm. Menyerang bagian daun, terutama tulang daun dengan cara mengisap cairan daun, sehingga semua kandungan nutrisi didalamnya termasuk klorofil ikut terhisap dan menyebabkan daun menjadi kering. Pengawasan terhadap tungau ini perlu diperketat khususnya pada musim kemarau karena pertumbuhannya yang cukup pesat. Pengendalian bisa juga dengan menggunakan acarisida dengan bahan aktif tetradifon Tedion 75 EC.

Kumbang Tanduk (Oryctes rhinoceros L ), Kumbang ini menjalani proses metamorphosis sempurna dengan 4 stadia Telur, Larva/ uret, Kepompong dan imago/ kumang. . Merusak daun tanaman muda sawit yang belum terbuka sehingga pada saat daun terbuka terlihat bekas potongan yang simestris berbentuk segitiga atau seperti garis simetris huruf V. Kumbang menyebabkan kerusakan tanaman sawit dengan cara melubangi tanaman sawit dan sangat berbahaya bila menyerang titik tumbuh tanaman sawit. Kumbang tanduk kurang berbahaya pada tanaman sawit tua. Beberapa cara pengendalian kumang tanduk bisa dengan menggunakan insektisida sistemik Marshal 5 G, Jamur Metharrizium anisopliae dan virus aculovirus oryctes, Cordicep sp. Penggunaan Feromonas yang memiliki aroma khusus yang mengundang imago/kumbang mendekati sumber aroma yang membangkitkan gairah sex kumbang sehingga kumbang oryctes berkumpul disekitar feromonas dan akan mudah dikendalikan. Penggunaan jaring dari bahan monofilament sebagai pagar pembatas diluar kebun sehingga akan melindungi sawit dari serangan kumbang oryctes. Musuh alami kumbang oryctes yang dapat mengendalikannya adalah Santalus paralleus, Platymerys laevicollis yang merupakan predator telur dan larva oryctes, dan Agrypnus sp merupakan predator larva dari oryctes juga.

Kumbang tandan buah (Tirathaba mundella Walker), kumbang ini khususnya stadia larva/ ulat seringkali menyerang tandan buah tanaman sawit muda erusia 3 – 4 tahun diawal produksi dan tanaman sawit tua yang menyebabkan buah berlubang hinggb kebagian inti dan berakibat kerontokan buah atau aborsi atau buah. Selain menyerang buah hama ini menyerang bagian bunga sawit sehingga bunga sawit akan gugur. Cara hama ini merusak tanaman sawit dengan menebar telur pada buah muda sawit yang bila waktunya menetas larva akan merengsek masuk kedalam buah sawit. Buah sawit muda akan mengalami keguguran. Akibat lanjutan bisa mengakibatkan tanaman sawit tidak akan berbuah hanyanya tanamannya tumbuh tinggi menjulang. Keberadaan kumbang ini juga dapat dihindari dengan menjaga kebersihan area sekitar / penyiangan gulma. Cara pengendalian lainnya terhadap hama ini dengan melakukan pembersihan buah buah busuk, disimpan dalam wadah berisi insektisida dan ditanam. Kita bisa memaanfaatkan musuh alami antara lain Bacillus thuringensis, lalat Argyroplax asifulva, Venturia sp, Apenteles tirathaae, penggunaan peranggap dan feromon sintetik, serbuk mimba yang dicampur pasir, penggunaan naftalene alls,dan sanitasi tandan yang membusuk. Kita juga bisa menggunakan insektisida berbahan aktif fipronil, sipermetrin. Hanya penggunaan insektisida harus hati hati agar tidak mematikan serangga penyerbuk sawit Eladoius kamerunicus.

Mahasena corbetti, sejenis larva/ ulat kantung yang menyerang daun tanaman sawit dalam semua tingkat umur. Umumnya pada tanaman sawit usia 8 tahun keatas. Ulat ini dapat ditemukan sedang bergantung di pangkal pelepah dan bagian bawah daun. Ulat kantong mengeluarkan bagian kepala untuk memakan daun, bunga dan kulit tanaman sehingga daun berlobang dan menggulung. Ulat muda memakan bagian bawah daun sedangkan ulat tua menghabiskan daun dan lidi, sehingga daun berlubang dan akhirnya mengering. Pengendalian bisa kita gunakan dengan Bacillus thuringensis, pelepasan predator furcellata, jamur C. aff. Militaris. Secara mekanis bisa dilakukan dengan menangkap atau mengambil semua stadia ulat kantung dari mulai ulat hingga ngengatnya. Penggunaan insektisida diperolehkan seperti Diazinon, Dimehipo, Manuver, Anthong, Metomil.

Nematoda Rhadinaphelenchus cocophilus. Nematoda ini menyerang bagian vital tanaman sawit yaitu pada akar. Serangan pada akar ditandai dengan daun sawit yang tumbuh tidak terbuka, bahkan daun menggulung dimana selanjutnya warna daun berubah menjad ikuning dan akhirnya menjadi kering. Penanggulangannya dengan cara membakar. Tanaman sebelumnya dimatikan dengan menggunakan racun Natrium Arsenit. Caranya batang dilobangi dengan bor sedalam 30 m miring keatas lalu masukkan 20 CC Natrium Arsenit dan tutup dengan tanah liat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

shares