hari ini :

Home » Edukasi » Gulma Perusak Produktifitas Tanaman Jagung (Zea mays)

Gulma Perusak Produktifitas Tanaman Jagung (Zea mays)

Oleh :
Martua Suhunan Sianipar (Dosen mk Ilmu Gulma Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran) & Mery Andriani Siburian (Alumni Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara)

EDUPUBLIK – Pertanian merupakan salah satu upaya manusia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dan semakin hari semakin berkembang maju. Seiring dengan kemajuan dan kesejahteraan manusia kemampuan manusia dalam ilmu pengetahuan dan teknologi khususnya teknologi budi daya pun terus berkembang mengkuti perkembangan zaman. Semua faktor yang mempengaruhi pertumbuhan dan produktivitas tanaman menjadi bahan pertimbangan dalam pencapaian target produksi.

Dalam pelaksanaan di lapangan terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi pertumbuhan tanaman dalam proses budi dayanya. Salah satunya akibat adanya tumbuhan liar yang kehadirannya tidak diperlukan dalam praktek budi daya tanaman yang disebut dengan Gulma. Gulma mempunyai pendefenisian beragam. Definisi Subjektif, gulma merupakan tumbuhan yang tidak dikehendaki manusia. Ada yang mendefinisikan Gulma merupakan tumbuhan yang hidup ditempat yang tidak diinginkan; Ada juga yang mendefinisikan bahwa Gulma merupakan tumbuhan yang mempunyai pengaruh negatif terhadap manusia baik secara langsung maupun tidak langsung, ada lagi yang mendefinisikan Gulma adalah semua tumbuhan selain tanaman budi daya. Ada yang mendefinisikan gulma merupakan tumbuhan yang kehadirannya dianggap sebagai pengganggu tanaman yang dibudidayakan (Matnawi, 1994). Gulma merupakan tumbuhan yang belum diketahui manfaatnya. Selain itu ada pula definisi Gulma secara Ekologis yaitu Tumbuhan yang mempunyai kemampuan khusus untuk menguasai lahan lahan yang telah mengalami gangguan manusia atau disebut juga sebagai tumbuhan pionir dari suksesi sekunder terutama pada lahan lahan pertanian Sebenarnya lebih tepat kalau Gulma didefinisikan sebagai tumbuhan yang telah beradaptasi dengan habitat buatan dan menimbulkan gangguan terhadap segala aktifitas manusia (Soetikno S. Sastroutomo, 1990). Gulma dapat menurunkan produktifitas tanaman budidaya lewat kompetisi unsur hara dan energi matahari. Gulma dikelompokkan atas Gulma Agrestal/ Segetal : Berasal dari kata Agros = pertanian.: Gulma dilahan pertanian atau gulma di tanah tanah yang mengalami pengolahan; Ruderal ; gulma yang dijumpai ditempat tempat ruderal (Rudus : Sisa sisa). Tumbuhan yang ditemukan ditepi jalan, rel rel kereta api, atap gedung, tepi kolam/ tepi sungai/ tepi danau/ tempat pembuangan sampah; Gulma Padang Rumput : Gulma yang tidak bernilai gizi tinggi dan tidak produktif dan umumnya merupakan gulma menahun.Gulma kalau pun bernilai gizi menimbulkan kerugian bagi ternakcatau hasil dari ternak; Gulma Air : Gulma air yang menimbulkan kesuburan air/ residu pestisida diair yang dapat mengganggu aktifitas lalu lintas air, usaha perikanan, menghambat kelancaran aliran air irigasi, mempercepat pendangkalan serta menimbulkan gulma2 baru di perairan; Gulma Hutan : Gulma yang ditemukan dilahan lahan pesemaian, penghijauan pohon ketika dilakukan peremajaan hutan atau dihutan industry; Gulma Lingkungan :Gulma yang bukan merupakan gulma asli suatu lahan. Gulma ini sangat agresif sehingga mampu menguasai luas lahan baru dan mampu memusnahkan tumbuhan/ gulma aslinya (Soetikno S. Sastroutomo, 1990).

Pertanyaannya adalah Kenapa Gulma tidak dikehendaki keberadaannya oleh manusia? Hal ini tidak lain karena Gulma memiliki daya saing/ kompetisi tinggi, merupakan rumah inang sementara dari hama, penyakit atau parasit tanaman, mengurangi mutu hasil panen dan dapat menghambat aktifitas pertanian. Meskipun demikian Gulma sebenarnya mempunyai pengaruh menguntungkan seperti menyeimbangan unsur hara dalam tanah, berfungsi sebagai tumbuhan refugia maupun tumbuhan barrier bagi berbagai hama,penyakit maupun parasit tanaman budidaya, serta kemungkinan pemanfaatan Gulma sebagai tumbuhan silang dengan tanaman budidaya untuk mendapatkan tanaman budidaya yang tahan akan hama,penyakit dan virus maupun tanaman yang tahan hidup pada kondisi lingkungan yang tidak menguntungkan.

Lahan jagung merupakan lahan terbuka yang mudah terpapar oleh cahaya matahari. Tanaman akan berkembang dengan baik pada lahan demikian termasuk tumbuhan spesies gulma. Umumnya bila ditinjau berdasarkan morfologi dan respon terhadap herbisida, gulma yang paling optimum tumbuh pada lahan jagung adalah gulma berdaun lebar dari family Asteraceae karena dapat berkembang biak melalui biji serta mempunyai kemampuan beradaptasi dengan lingkungan. Meskipun demikian lahan pertanian tanaman jagung yang kering dan terpapar sinar matahari juga menjadi tempat tumbuh bagi gulma family Rubiaceae, Cyperaceae dan poase. Spesies spesies Gulma yang ditemukan pada tanaman Jagung yaitu Gulma Golongan rumput yaitu Rumput kakawatan/ Rumput Grinting (Cynodon dactylon), Jajagoan leutik (Echinochloa colona), Carulang/ Kelangan/ Lulangan (Eleusine indica), Alang alang (Imperata cylindrica), Kemudian Gulma Golongan Teki yaitu Teki (Cyperus rotundus). Gulma dari Golongan Berdaun Lebar yaitu Bayam duri ( Amaranthus spinosus ), Babadotan (Ageratum conyzoides) dan Ciplukan (Physalis longifolia), Goletrak (Borreria alata (Aubl.) K.Schum, Katumpang (B. laevis), Meniran (Phyllanthus urinaria), Lidah Tiong/ Rumput lidah Ular (Hedyotis diffusa), Gletang ( Tridax procumbens), rumput belalang (Digitaria sanguinalis),Krokot (Portulaca s) . Tentu saja keberadaan Gulma ini tidak bisa dibiarkan begitu saja. Berbagai upaya pengendalian dilakukan seperti : 1. Pengendalian Mekanis antara lain dengan menggunakan tangan dengan cara mencabut, menggunakan cangkul dengan mencangkul permukaan tanah, menggunakan sabit/ arit membumbun tanaman jagung, 2. Pengendalian dengan cara kimia dengan menggunakan Herbisida yang bersifat sistemik (Azzami, 2018; Tua Surono Sihombing, 2020) lakukan dengan hati hati dan bijak dengan memenuhi 6 (enam) tepat yaitu Tepat mutu, tepat waktu, tepat sasaran, tepat takaran, tepat konsentrasi dan tepat cara aplikasinya dan tentu saja tidak mengabaikan efisiensi, efektifitas serta aman lingkungan. Tidak ada satu pestisidapun hingga saat ini mampu mengendalikan semua gulma termasuk gulma pada tanaman Jagung. Keberhasilan pengendalian gulma merupakan salah satu faktor penentu tingkat hasil jagung yang tinggi. Gulma dapat dikendalikan melalui berbagai cara secara UU melalui upaya Karantina, secara fisik dengan membakar dan menggenangi tanaman bagian akar, secara mekanis dengan mencabut, membabat, menginjak, menyiang dengan tangan dan mengolah tanah dengan alat mekanis bermesin dan non mesin, melalui budidaya dengan pergiliran tanaman, peningkatan daya saing serta penggunaan mulsa, secara biologi dengan menggunakan organisme hidup, secara kimia menggnakan herbisida. Gulma pada tanaman Jagung umumnya dikendalikan secara mekanis dan kimiawi. Bila tidak bijaksana pengendalian gulma pada tanaman jagung berpotensi merusak lingkungan, membahayakan petani maupun hasil jagungnya.[red]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

shares