hari ini :

Home » Lingkungan » Milad Ke-4 FPHJ: Desak Audit PLTSa Legok Nangka dan Pemulihan TPA Sarimukti

Milad Ke-4 FPHJ: Desak Audit PLTSa Legok Nangka dan Pemulihan TPA Sarimukti

EDUPUBLIK, Kab Bandung – Forum Penyelamat Hutan Jawa (FPHJ) memperingati Milad ke-4 dengan menggelar diskusi publik bertema “Ancaman Sampah terhadap Kelestarian Hutan dan Lingkungan” di Kawasan Alam Santosa, Pasir Impun, Cimenyan, Kabupaten Bandung, Sabtu (23/5/2026).

Kegiatan ini dihadiri berbagai unsur, di antaranya perwakilan Dinas Kehutanan Jawa Barat, Perhutani Divre Jabar-Banten, PTPN 1 Regional 2, Paguyuban Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) Jawa Barat, Palawi, para senior rimbawan, aktivis lingkungan, akademisi, serta pemerhati kehutanan dan lingkungan hidup.

Dalam forum tersebut, FPHJ menyoroti persoalan sampah yang semakin mengkhawatirkan di Jawa Barat, khususnya Bandung Raya. Berdasarkan data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) KLHK tahun 2024, Indonesia memproduksi sekitar 33,79 juta ton sampah per tahun. Sementara Bandung Raya menjadi salah satu wilayah dengan produksi sampah tertinggi, mencapai sekitar 25 ribu ton per hari.

Ketua FPHJ, Eka Santosa, menegaskan bahwa kondisi TPA Sarimukti saat ini tidak lagi dapat dipandang semata sebagai persoalan teknis pengelolaan sampah, melainkan telah menjadi ancaman ekologis jangka panjang.
Menurutnya, kawasan Sarimukti yang secara geografis merupakan daerah resapan air dan penyangga lingkungan, kini mengalami beban yang melampaui kapasitas.

“Dampak sistemik seperti pencemaran air lindi, penurunan kualitas tanah, hingga emisi gas metana yang memicu risiko kebakaran landfill merupakan ancaman nyata. Jika tata kelola sampah tidak segera dibenahi secara mendasar, kita sedang mewariskan krisis ekologis bagi kawasan hutan dan daerah tangkapan air di masa depan,” ujar Eka Santosa.

FPHJ juga menyerukan pentingnya pemulihan ekologis kawasan TPA Sarimukti melalui pendekatan rehabilitasi dan penghutanan kembali secara bertahap.
Selain itu, forum turut menyoroti perkembangan proyek Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) Legok Nangka yang hingga kini dinilai belum menunjukkan kejelasan implementasi, meskipun telah lama direncanakan dan menyerap anggaran besar.

FPHJ menilai pengelolaan sampah tidak boleh hanya bergantung pada satu pendekatan teknologi semata. Jawa Barat dinilai memiliki sumber daya manusia yang memadai, mulai dari akademisi, teknokrat, hingga komunitas inovator lingkungan yang dapat dilibatkan dalam penyusunan solusi komprehensif dan berkelanjutan.

Dalam diskusi berkembang pula pandangan dari sejumlah peserta mengenai pentingnya transparansi dan evaluasi menyeluruh terhadap proyek-proyek strategis pengelolaan sampah, termasuk PLTSa Legok Nangka, agar kebijakan publik berjalan efektif, akuntabel, dan berpihak pada keselamatan lingkungan.

Mantan Anggota DPRD Jawa Barat periode 2004–2009, Ginandjar Daradjat, dalam kesempatan tersebut mengingatkan bahwa keberadaan TPA Sarimukti pada awalnya merupakan solusi darurat pasca tragedi longsor TPA Leuwigajah tahun 2005.

“Pada saat itu, Sarimukti digunakan sebagai langkah darurat untuk mengatasi penumpukan sampah di Bandung Raya. Namun dalam perkembangannya, solusi sementara tersebut justru berlangsung berkepanjangan tanpa penyelesaian mendasar,” ujarnya.

Milad ke-4 FPHJ menjadi momentum refleksi bersama mengenai pentingnya menjaga keseimbangan ekologis Jawa Barat, memperkuat tata kelola sampah yang berkeadilan lingkungan, serta mendorong keterlibatan seluruh elemen masyarakat dalam upaya pelestarian hutan dan lingkungan hidup.[red]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*