hari ini :

Home » Lingkungan » Pembahasan KJA di 3 Waduk, Sampah  & Limbah Dalam Rapat Kordinasi Satgas Citarum Harum

Pembahasan KJA di 3 Waduk, Sampah  & Limbah Dalam Rapat Kordinasi Satgas Citarum Harum

EDUPUBLIK, Bandung – Seluruh Komandan Sektor Satgas Citarum tampak hadir pada rapat koordinasi Sekretariat Satgas dan Tim Satgas DAS Citarum di Posko Citarum Harum, Jalan Naripan 25 Bandung, Jumat (28/6/19). Rapat dipimpin Ketua Harian Satgas Citarum Harum Dedi Kusnadi Tamim. Hadir pula dalam rapat ini di antaranya Asisten Deputi Diklat SDM, Iptek dan Budaya Maritim Tb Haeru Rahayu; Ani Widiani, Kasubid Infrastruktur & Kewilayahan III Bappeda Jabar; Kadis Perikanan dan Kelautan Jabar, Jafar Ismail; serta berbagai pihak terkait lainnya.

Secara umum rapat yang membahas percepatan dan implementasi lapangan sehubungan terbitnya Perpres RI No. 15 Tahun 2018 tentang Percepatan Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan DAS Citarum, atau dikenal secara popular Perpres ini tentang ‘Revitalisasi DAS Citarum’, di antaranya membahas tentang rencana tindak penataan Karamba Jaring Apung (KJA) di 3 Waduk (Cirata, Saguling, Jatiluhur), termasuk pemberdayaan wilayah sungai (pelajar/masyarakat umum), penanganan buangan limbah pabrik, dan penanganan sampah.

Data Base DAS Citarum

Asisten Teritorial Kodam III Siliwangi, Kol Arh GTH Hasto Respatyo mewakili Wadansatgas Pangdam III Siliwangi dalam kesempatan rapat ini memaparkan progress ‘revitalisasi DAS Citarum’ yang telah dicapai oleh masing masing sektor, mulai dari sektor pembibitan, sektor 1 hingga sektor 22 dalam konteks Satgas Citarum Harum.

“Secara periodik dilaksanakan rakor posko dengan seluruh dansektor, posko sektor-sektor terhubung dengan posko utama kodam, laporan dikirim, dianalisa dan dibuat database untuk dilaporkan, dievaluasi, demi menyusun rencana selanjutnya,” ujar Hasto.

Limbah, Sampah & KJA

Sementara, Ani Widiani mewakili Bappeda Jabar menyebutkan, rencana aksi program Citarum tahun 2020-2025 membutuhkan anggaran mencapai Rp.16,1 Triliun.

“Untuk Citarum ini,  anggaranya dari berbagai sumber, dari APBN, APBD Provinsi, APBD Kota/Kabupaten, dan BUMN,” tambah Ani Widiani.

Secara total, menurut Ani Widiani, dana yang dibutuhkan hingga tahun 2025 mencapai Rp. 16,1 Triliun – rimciannya: “APBN 47 persen, APBD Provinsi 33 persen, dan seterusnya,” terangnya.

Berdasarkan jumlah anggaran ini, lanjut Ani Widiani, rencana aksi program ‘revitalisasi’ Citarum, yang termasuk paling banyak menyedot anggaran adalah penanganan persoalan persampahan :

“Anggaran paling besar dari rencana aksi ini memang persampahan, selanjutnya pengolahan sumber daya air, dan ketiga penanganan limbah industry.”

Kepada redaksi dua Dansektor masing-masing, Kolonel Inf. Yusep Sudrajat Dansektor  21, dan Kolonel Raflan Dansektor 12, bersepakat dalam hal penanganan pengurangan jumlah KJA di tiga waduk, perlu penguatan khusus.

“Permaslahan jumlah KJA yang sudah tidak produktif, kepemilikan KJA yang sudah tak jelas, serta alternatif alih profesi yang memadai dari para nelayan setempat yang sudah ‘overload’, perlu disiapkan dengan matang secara lintas sektoral. Ini tidak bisa dilakukan oleh beberapa pihak saja, papar Raflan yang diamini oleh beberapa Dansektor lannya.

Sementara itu Yusep Sudrajat yang lama berkutat menangani ratusan limbah pabrik, menyambut baik terjadinya rapat koordinasi ini. Menurutnya, kita tahu semula sebelum program Citarrum Harum dimulai, hanya kalangan tertentu saja yang peduli pada permasalahan sungai Citarum, sekarang sudah ada perbaikan:

”Bersyukur dengan kerja keras dan dukungan dari berbagai kalangan, progress di lapangan terjadi secara significant. Tentu, ini baru tahap awal. Idealnya, memang zero waste yang kami tuju, sehingga DAS Citarum dapat kembali lagi sehat seperti era 1980-an.” (HS/dtn)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*